REFERENSI(2013, Air Bersih dan Air Minum. Dikutip

REFERENSI(2013, March 22). Pengertian dan Aspek Kesehatan Air Bersih dan Air Minum. Dikutip dari http://www.indonesian-publichealth.com/aspek-kesehatan-penyediaan-air-bersih/(2017, Juli 03) Definisi Sanitasi Lingkungan. Dikutip dari http://www.indonesian-publichealth.com/sanitasi-lingkungan/Modul Rekayasa Lingkungan Bab 2 Sistem Penyedian Air Bersih. Dikutip dari http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/rekayasa_lingkungan/bab2_sistem_penyedian_air_bersih.pdfBAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 Definisi AirMenurut Sudarmadji (2007), Air merupakan ikatan kimia yang terdiri dari 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen (H2O), ia dapat berbentuk gas cair maupun padat. Air sering dianggap murni hanya terdiri dari H2O, tetapi pada kenyataannya di alam tidak pernah dijumpai air yang sedemikian murni, meskipun air hujan. Sedangkan menurut Slamet (2004) komposisi air di dalam tubuh manusia, berkisar antara 50-70% dari seluruh berat badan. Sedangkan tingkat konsumsi air bersih berbeda antara pedesaan dan perkotaan. Menurut Manual Teknis Upaya Penyehatan Air, Ditjen P2PLP Depkes RI (1996.5), kebutuhan air bersih masyarakat perkotaan berkisar 150 lt/org/hr, dan untuk masyarakat pedesaan 80 lt/org/hr. Air tersebut digunakan untuk keperluan sehari-hari dan keperluan pendukung lainnya termasuk yang mendukung kebutuhan-kebutuhan sekunder.2.2 Definisi Air BersihDefinisi Air bersih adalah air sehat yang dipergunakan untuk kegiatan manusia dan harus bebas dari kuman-kuman penyebab penyakit, bebas dari bahan-bahan kimia yang dapat mencemari air bersih tersebut. Air merupakan zat yang mutlak bagi setiap mahluk hidup dan kebersihan air adalah syarat utama bagi terjaminnya kesehatan (Dwijosaputro, 1981).Menurut Peraturan Menteri Kesehata RI Nomor : 41 6/Menkes/Per/IX/1990 tentang syarat-syarat pengawasan kualitas air, air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat-syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.2.3 Definisi Sanitasi Menurut World Health Organization (WHO) sanitasi adalah cara higienis untuk mencegah kontak manusia dari bahaya limbah untuk meningkatkan kesehatan. Bahaya dapat berupa agen penyakit fisik, mikrobiologi, biologi atau kimiawi. Limbah yang dapat menyebabkan masalah kesehatan adalah kotoran manusia dan hewan, limbah padat, limbah cair domestik (limbah, sullage, greywater), limbah industri, dan limbah pertanian. Cara pencegahan yang higienis dapat dilakukan dengan menggunakan solusi teknik (misal: pengolahan limbah dan pengolahan air limbah), teknologi sederhana (mis. Percobaan, tangki septik), atau bahkan oleh praktik kebersihan pribadi (misalnya mencuci tangan dengan sabun). Istilah “sanitasi” dapat diterapkan pada aspek, konsep, lokasi, atau strategi tertentu, seperti:• Sanitasi dasar – mengacu pada pengelolaan kotoran manusia di tingkat rumah tangga. Terminologi ini adalah indikator yang digunakan untuk menggambarkan sasaran Sasaran Pembangunan Milenium pada sanitasi.• Sanitasi di tempat – pengumpulan dan pengolahan limbah dilakukan di tempat penyimpanannya. Contohnya adalah penggunaan jamban, tangki septik, dan tangki imhoff.• Sanitasi makanan – mengacu pada tindakan higienis untuk memastikan keamanan pangan.• Sanitasi lingkungan – pengendalian faktor lingkungan yang membentuk link dalam transmisi penyakit. Subset dari kategori ini adalah pengelolaan limbah padat, air dan pengolahan air limbah, pengolahan limbah industri dan pengendalian kebisingan dan polusi.• Sanitasi ekologis – konsep dan pendekatan daur ulang ke alam nutrisi dari limbah manusia dan hewan.Sanitasi umumnya mengacu pada penyediaan fasilitas dan layanan untuk pembuangan kotoran manusia dan kotoran manusia secara aman. Sanitasi yang tidak memadai merupakan penyebab utama penyakit di seluruh dunia dan perbaikan sanitasi diketahui memiliki dampak menguntungkan yang signifikan terhadap kesehatan baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Kata ‘sanitasi’ juga mengacu pada pemeliharaan kondisi higienis, melalui layanan seperti pengumpulan sampah dan pembuangan air limbah (Sanitasi dan kesehatan masyarakat)BAB IIIPEMBAHASAN3.1 Kondisi Air Bersih di IndonesiaMenurut data yang dihimpun oleh UNICEF Indonesia pada tahun 2012 dalam Ringkasan Kajian : Air Bersih, Sanitasi & Kebersihan, Indonesia telah menunjuka kemajuan yang signifikan dalam meningkatkan akses pelayanan air dan sanitasi dibandingkan dengan beberapa dekade sebelumnya. Provinsi yang memiliki kemajuan paling tinggi rumah tangga yang memperoleh akses sumber air bersih dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia yaitu Jawa Tengah sebesar 70% sedangkan provinsi yang memperoleh prosentasi terendah dari semua provinsi yaitu DKI Jakarta sebesar 25%. Hal tersebut menunjukan bahwa kemajuan suatu daerah tidak berbanding lurus dengan ketersedian air bersih untuk masyarakatnya, justru berbanding terbalik seiring berkurangna lahan dan akses rumah tangga memeperoleh air bersih. Walaupun begitu provinsi DKI Jakata menempati posisi pertama dalam mempunyai fasilitas sanitasi yang lebih baik dan paling sedikit masyarakatnya yang masih membuang air  besar di tempat terbuka dibandingkan dengan provinsi lainnya. Penyebab lain yang menghambat memperoleh akses air bersih adalah ketersediaan air bersih tersebut di lingkungan sekitar masyarakat, banyak sekali aktivitas masyarakat yang menggangu ketersediannya air bersih diantaranya yaitu buang air besar di tempat terbuka, banyak masyarakat miskin diperkotaan masih melakukan kegiatan tersebut. Kepadatan penduduk menyebabkan kurangnya kebersihan serta sanitasi yang buruk dapat menciptakan kondisi yang tidak sehat. Air menjadi terkontaminasi zat-zat yang berbahaya dan dapat menyebabkan sumber bibit penyakit, seperti disentri, kolera dan penyakit diare lainnya, tipus, hepatitis, leptospirosis, malaria, deman berdarah, kudis, penyakit pernapasan kronis dan infeksi parasit usus. Laporan Riskesdas tahun 2007 menyatakan bahwa penyakit diare di Indonesia merupakan penyebabutama kematian anak berusia di bawah lima tahun, hal tersebut disebabkan oleh penggunaan sumur terbuka rumah tangga untuk air minum dibandingkan penggunaan air ledeng, serta buang air besar di sungai atau selokan di bandingkan dengan menggunakan fasilitas toilet pribadi atau septik tank. Kaum miskin di perkotaan lebih terbebani lagi dengan harus merogoh kantung yang lebih dalam untuk mepeoleh oleh air yang berkualitas lebih buruk dibandingkan dengan kelompok kaya. Tersediannya sarana air di perkotaan tidak dapat dijangkau oleh semua kalangan karena perluasan pelayanan tidak dapat mengimbangi perkembangan penduduk di daerah perkotaan. Hal tersebut menyebabkan penduduk lainnya bergantung kepada sumber air lain, seperti sumur dangkal, penjual air keliling dan jaringan privat yang terhubung dengan sumur yang dalam. Namun biaya yang diperukan untuk memperoleh sumber air alternatif ini tidaklah murah seperti harga air ledeng yang biasa digunakan masyarakat sehari-hari.3.2 Tantangan dalam Mengatasi Permasalahan        Banyak pemerintah kabupaten setelah masa desentralisasi merasa terhambat karena kurangnya keahlian di sektor perairan dan kapasitas kelembagaan. Kesulitan untuk merekrut tenaga yang terampil karena pada umumnya mereka memilih untuk tinggal di derah perkotaan dibandingkan untuk menetap di kabupaten-kabupaten terpencil. Selain itu koordinasi yang lebih kuat harus di terapkan pada beberapa kementrian dan lembaga yang terlibat dalam sektor air bersih dan sanitasi, seperti kontraktor yang membangung sistem perairan pedasaan harus lebih bertanggung jawab kepada pemerintah. Akhir-akhir ini koordinasi tersebut telah meningkat  dengan terbentuknya kelompok kerja yang disebut Pokja AMPL di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten untuk air bersih dan sanitasi lingkungan.         Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perilaku kebersihan harus ditingkatkan karena survei di enam provinsi yang dilakukan oleh Universitas Indonesia. Hasil survei tersebut menyatakan bahwa kurang dari 15 persen ibu mencuci tangan mereka dengan sabun setelah buang air besar, sebelum menyiapkan makanan atau membersihkan pantat anaknya. Angka tersebut menunjukan bahwa masyarakat Indonesia masih sangat minim dalam menerapkan kebersihan dalam kegiatannya sehari-hari.