Kamar “Padahal penulis itu jelas-jelas mengirimkan alamat

Kamar

 

Berulang kali Mirnasari mencocokkan alamat yang tertulis dalam
catatan kecilnya. Dipandanginya dengan sangat cermat, tapi memang tidak ada
yang salah. Alamat yang tertulis dalam catatan kecil itu sudah sangat sesuai
dengan tempat yang didatanginya. Namun seperti dua hari yang lalu dan juga
kemarin, tempat itu hanya memberi misteri dan rasa heran dalam benak Mirnasari.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

“Padahal penulis itu jelas-jelas mengirimkan alamat ini.”  

Di tempat itu hanya ada gubuk tua, dengan tiang-tiangnya yang sudah
rapuh, termakan rayap. Papan-papan dindingnya pun sudah banyak yang terbuka. Sepertinya
gubuk itu sudah tak berpenghuni.

“Tapi mestinya dia berada di sini.”

Hari ini Mirnasari punya tugas untuk mewawancarai beberapa
narasumber, semua harus diselesaikan sebelum jam empat sore nanti. Tas kecil
berisi kamera, alat perekam, serta kartu tanda pengenal bertuliskan nama
Mirnasari dan “Tabloid Uncis” selalu ia siapkan dalam menunaikan tugasnya.

Rencananya, orang pertama yang ingin diwawancarai adalah Uge
Lundrara, seorang penulis yang sering mengisi kolom sastra di tabloid Uncis,
tempat Mirnasari bekerja.  Staf redaksi
menugaskan Mirnasari untuk menulis profil Uge Lundrara, semacam penghargaan
atau penghormatan karena Uge Lundrara dianggap telah banyak menyumbangkan ide
kreatif lewat tulisan-tulisannya. Tentu saja Mirnasari sangat antusias dengan
tugas ini, selama ini dia juga penasaran untuk bertemu dan berbicara langsung
dengan Uge Lundrara.

“Dia adalah penulis idealis…”

Tapi mengapa Uge Lundrara mengirimkan alamat yang hanya berisi gubuk
tua ini.”

Mirnasari menghela nafas panjang lalu menghembuskannya kembali.

“Atau jangan-jangan penulis itu memang ada dalam gubuk ini, bukankah
penulis memang selalu menyuguhkan hal-hal yang unik dan kadang terkesan “gila”
demi mencari sebuah inspirasi untuk dituangkan ke dalam tulisan… akh rasanya
tidak mungkin, inspirasi macam apa yang terlahir dari tempat seperti ini.”

Mirnasari masih berdiri di halaman depan gubuk itu. Ia memandang sekelilingnya,
mencoba mencari informasi yang bisa menjelaskan tentang keberadaan Uge
Lundrara. Ada anggrek bulan yang menempel di pohon mangga tapi sudah mati,
pohon manggannya pun kelihatan akan mati. Ada batu-batu gunung yang telah
dipenuhi dengan lumut. Ada juga sandal kulit, dengan tali yang sudah putus.
Mungkin Mirnasari harus segera pergi lalu mencari narasumber lain.

“Tapi tidak, alamat ini sudah sangat betul, hari ini aku harus
mendapatkan Uge Lundrara, atau setidaknya informasi tentangnya.”

Mirnasari kembali menoleh dan memandang gubuk itu. Didorong oleh
rasa pensaran yang sangat tinggi, Mirnasari mendekat lalu masuk ke dalam gubuk.
Pintunya memang tidak terkunci. Tapi Mirnasari harus berjalan pelan agar tidak
mematahkan papan-papan lantai. Debu dan kotoran tikus tampak berserakan di mana-mana.
Beberapa kali Mirnasari mengipas-ngipaskan tangan di depan hidungnya. Kerutan
wajahnya, menandakan kalau tempat itu terlalu jorok untuk ditinggali.

Tapi Mirnasari sudah terlanjur masuk. Apa pun yang dilihat patut untuk
dicatat, meski hanya dalam memori otak. Hanya ada satu kamar di dalam gubuk,
Mirnasari berjalan menuju ke kamar itu.

“Ternyata betul, ini adalah kamar Uge Lundrara, penulis itu.”

Mirnasari bergumam sendiri setelah melihat sebuah tulisan yang
tertera di pintu kamar setengah terbuka.

“Bukan karena Tuhan memberimu, sehingga kau harus menerimanya,,,
tapi karena kau meminta, maka Tuhan pun harus memberimu.”

Kata-kata itu pernah ada dalam salah satu narasi Uge Lundrara di
kolom sastra Uncis. Mungkin Uge Lundrara adalah seorang mengagum “free will” yang ekstrim.

Seperti sedang  menemukan
jawaban awal, Mirnasari pun mencoba masuk ke dalam kamar itu. Ia mencermati setiap
benda yang ada dalamnya.

“Masuklah dan akan kuceritakan segala hal tentang Tuanku.”

Kamar itu menyapa Mirnasari, , , dan Mirnasari tersenyum ramah.
Tentu saja ia sangat senang bila kamar itu bisa membantunya untuk membuat
profil Uge Lundrara. Bukankah kamar kadang lebih jujur daripada penghuninya…

“Baiklah… Ceritakan padaku tentang apa pun yang kamu ketahui tentang
Tuanmu, Uge Lundrara.”

Maka kamar itu pun
bercerita…

Tuanku… Sebenarnya nama asli Tuanku adalah Ruddin Ma’gala, dia
berbintang Libra. Lebih dari separuh hidupnya dilewatkan di sini, di antara dinding,
jendela dan langit-langitku. Tuanku menangis dan tertawa di sini. Dia pernah
membenturkan kepalanya di salah satu tiang penyanggahku. Waktu itu, kulihat
wajahnya bersimbah air mata sambil menyebut nama Tuhan dan Ibunya.

Dia juga pernah tersenyum-senyum sendiri di depan jendelaku. Saat
itu, dia sedang memandang Santi yang lewat di depan gubuk bersama kekasihnya,
Wawan. Sebenarnya, aku tahu kalau saat itu Tuanku sedang cemburu berat, tapi
itulah tuanku… dia selalu munafik dengan perasaannya sendiri. Dia lebih senang
menjadi pemuja rahasia daripada mengungkapkan rasa pada orang yang dicintainya.

Tuanku adalah orang yang sangat malas. Dia selalu meninggalkanku
dalam keadaan berantakan. Debu-debu dibiarkan dengan leluasa menempeli
dindingku. Tuanku tidak pernah berpikir mengecat atau sekedar membersihkanku.
Padahal, kutahu dia mampu membeli cat atau pengharum ruangan seperti yang
sering digunakan oleh orang-orang kaya. Tiap malam kulihat dia membeli dua
bungkus rokok dan membuat secangkir kopi, meski kondisi paru-parunya sudah
sangat buruk.

Tuanku memang paling malas memahami keinginan, termasuk keinginannya
sendiri. Hatinya di simpan di bawah kasur, sementara akalnya digantung di
ranting pohon mangga. Dia selalu berjalan tanpa hati dan tanpa akal,
mencampur-adukkan kebutuhan dan keinginan dalam ranah kehidupannya.

Setelah ibunya meninggal, Tuanku terasing dalam hidupnya. Dia lebih
senang menyendiri atau sekedar ditemani dengan lantunan lagu…

“Bukankah hidup adalah perhentian, tak perlu kencang terus berlari,
kuhelakan nafas panjang tuk siap berlari kembali…

Tapi lagu itu hanyalah sebuah lagu. Setelah menghela nafas yang
sangat panjang, Tuanku tak pernah berjalan, apalagi berlari mengejar masa
depannya.

Lirik lagu itu juga sangat disukai oleh Santi, pujaan hati Tuanku.
Kehidupan Tuanku memang tak bisa dilepaskan dari cerita tentang Santi, mereka
selalu bersama meski dengan perasaan yang berbeda. Santi selalu menganggap
kebersamaan yang mereka jalani sangatlah biasa-biasa saja, tidak lebih dari
subuah pertemanan atau persahabatan.

Tapi tidak dengan Tuanku, setiap kali bersama dengan Santi, dia
selalu merasa kalau sedang berada dalam dekapan cinta, dengan getaran hati yang
tak bisa diurai dengan lisan.

Ada semburan tak wajar yang menelantarkan emosi pada kepahitan.

Ada palung gelap, dimana batang pikir menjadi tumbang, dan seketika musnah.

***

 

Sampai akhirnya, Tuanku betul-betul paham akan arti cinta, dia harus
tersenyum sendiri, meski Santi memilih Wawan sebagai pendamping hidupnya.

Dari saat-saatnya yang sendiri itulah, aku sering melihat Tuanku
menulis. Kutahu dia tidak berbakat di bidang itu. Tapi lama-kelamaan tulisan Tuanku
semakin banyak, dan perlahan aku mulai kagum dengannya. Ternyata untuk menjadi seorang
penulis, tidak selamanya ditentukan oleh bakat. Seorang penulis hanya butuh
keinginan dan sedikit keberanian. Tuanku telah melepas busur batinnya, jauh
meninggalkan raganya yang serba terhimpit oleh kenyataan, melewati
lorong-lorong kecil dan tempat-tempat eksotik di seantero dunia ini. Sayap
imajinasinya terbang hingga ke Venesia. Melewati samudra Atlantik, menyinggahi
pantai Florida, dan juga Menara Pisa. Tuanku menziarahi makam Nabi Muhammad,
patung Spinx dan persemayaman Fir’aun.

Di sini tuanku bisa meludah atau bahkan buang air kecil, memilih
untuk berpakaian atau telanjang. Kupikir tuanku memang jorok, tapi aku bisa
paham karena aku adalah satu-satunya tempat yang bisa memberinya kemerdekaan.
Di luar sana, semua tempat disesaki dengan rambu-rambu yang egois karena memang
dibuat oleh manusia-manusia yang egois. Aku pernah melihat tuanku berbaring
telentang, memandangi poster bergambar Rina Nose sambil memegang… oupst, maaf
ini terlalu buruk untuk kuceritakan, Tuanku pasti sangat malu bila ini
kusampaikan kepadamu. Yang pasti, aku ingin mengatakan kalau di sini tuanku
betul-betul menikmati kemerdekaannya secara utuh. Tuanku sangat senang karena
aku hanyalah pendengar dan saksi setia atas segala yang ia lakukan.

“Kehidupan adalah kemerdekaan… Tanpa kemerdekaan, kehidupan hanyalah
istilah lain dari kematian.”

Mirnasari terus mengintari kamar sempit itu, sudut demi sudut. Kasur
dan bantal yang sudah bocor lalu mengeluarkan isi kapuknya, balon lampu dan
kabel-kabel yang sudah tak punya aliran listrik, ada juga mesin tik tua dan
kertas-kertas buram yang berserakan. Di salah satu sisi kamar, tampak foto
Santi yang sudah menguning, sedang tersenyum sumringah di pelataran kampus.

Kamar itu terus menjelaskan kehidupan Uge Lundrara, Sang Penulis
yang sangat dicari oleh Mirnasari.

… Tapi sekarang Tuanku telah pergi. Kau adalah orang pertama yang
datang di sini setelah kepergiannya. Sebenarnya aku sangat rindu dengannya,
tapi kerinduanku seperti keresahan bulan yang ingin menatap siang. Kupikir saat
ini Tuanku telah menemukan kamar lain yang jauh lebih indah dariku. Mungkin di
sana dia sedang berbaring di atas kasur empuk, ditemani oleh seorang perempuan
yang juga jauh lebih cantik dan lebih baik daripada Santi. Mungkin di sana dia
sedang bercerita tentang aku, sebagaimana aku yang sedang berbicara tentangnya
kepadamu. Mungkin di sana dia sedang melanjutkan tulisannya, kisah seekor
katak, yang bisa menjalin cinta dengan dua makhluk yang hidup di dua tempat berbeda,
seekor jangkrik dan seekor ikan.

Sudah lebih dari sebulan Tuanku meninggalkan gubuknya dan juga aku.
Kamu lihat sendiri benda-benda yang ada di sini, semua hanya menunggu keputusan
sakral untuk dimusnahkan. Waktu pemusnahan itu mungkin tidak lama lagi, dua
atau tiga hari yang akan datang. Gubuk tempat aku bersandar ini akan dirobohkan
lalu diganti dengan hotel berbintang. Kayu-kayu, barang rongsokan dan apa pun
yang ada di sini, akan disingkirkan hingga betul-betul tanpa bekas agar tidak mengganggu
gemerlapnya pembangunan. Jaman dan peradaban memang selalu punya cara untuk
menegaskan eksistensinya pada sejarah.

Setelah aku tidak ada, pasti tidak ada lagi yang akan bercerita
tentang Tuanku. Mungkin dia hanya dikenal dengan tulisan-tulisan yang telah ia
buat dalam bentuk buku, atau dalam rubrik yang sempat mengisi koran-koran dan
majalah.

Lagi-lagi Mirnasari menghela nafas panjang lalu menghempasnya
kuat-kuat. Sudah sejam ia berada dalam kamar itu.

Di rumah, Mirnasari juga punya kamar. Semua orang memang punya
kamar, atau paling tidak, pernah merasakan hidup di dalam kamar. Setiap kamar,
pasti akan memberi kenangan panjang bagi para penghuninya. Kehidupan selalu
direncanakan dan diawali di dalam kamar, kehidupan pun banyak berakhir di dalam
kamar. Kamar luas, kamar sempit, kamar rumah, kamar kost, kamar hotel, kamar
kapal pesiar, kamar istana, atau kamar jenazah. Tapi kamar, hanyalah benda mati
yang tak punya lisan. Kamar hanya bisa bercerita lewat jendela dan
dinding-dindingnya, dengan bahasanya sendiri.

Sepertinya Mirnasari harus menemui narasumber lain. Ia pun bergegas
keluar dari kamar.

Tapi sebelum keluar, Mirnasari masih sempat bertanya pada kamar itu…

“Sebenarnya Tuanmu pergi kemana?”

Kamar itu menjawab…

“…Tuanku telah kalah melawan penyakit paru-parunya, dia dipanggil
oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.”  

 

 

 

x

Hi!
I'm James!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out